Kultur
jaringan adalah suatu cara memperbanyak tanaman dari sel atau jaringan
tanaman dewasa sehingga diperoleh individu baru yang sempurna. Dasar
dari kultur jaringan adalah suatu sifat yang dimiliki tumbuhan yang
disebut totipotensi. Sifat
totipotensi adalah kemampuan sel yang apabila diletakkan dalam
lingkungan yang sesuai dapat tumbuh menjadi individu baru yang sempurna.
Untuk itu diperlukan medium yang tepat untuk pertumbuhan sel, yaitu
medium yang mengandung nutrisi dan hormon tumbuh. Selain kondisi steril,
kedua hal tersebut adalah kunci pokok bagi keberhasilan kultur
jaringan. Totipotensi pertama kali dikemukakan oleh G. Haberlandt, seorang ahli fisiologi Jerman.
Kemudian oleh F.C. Stewardberhasil
dibuktikan totipotensi dari satu sel wortel yang dikultur pada medium
tertentu dan menghasilkan tanaman wortel yang utuh dan lengkap.
Penggunaan kultur jaringan mempunyai berbagai keuntungan antara lain :
- Diperoleh propagasi klonal, artinya didapatkan turunan secara genetik yang identik dengan induknya atau seragam dalam jumlah besar.
- Dapat digunakan sebagai pemuliaan tanaman, seperti seleksi, kultur anther atau polen, kultur protoplas, dan fusi protoplas.
- Diperoleh tumbuhan yang bebas dari virus, karena digunakan eksplan yang benar-benar bebas virus.
- Metabolisme sekunder, yaitu sifat totipotensi tidak terbatas pada struktur, tetapi menyangkut kemampuan mensintesis bahan kimia alami.
- Untuk pelestarian plasma nutfah.
Rekayasa Genetika
Rekayasa
genetika merupakan
1. Transfer gen (transplantasi gen)
Transfer
gen dikenal pula pencangkokan gen. Dengan memanfaatkan teknologi
mutakhir, para ahli telah berhasil menemukan kedudukan gen di dalam
kromosom. Bahkan dengan perantaran mikroorganisme bersel satu mereka
mampu memindahkan gen dari suatu species ke kromosom lainnya. Penerapan
teknik ini banyak memberikan manfaat yang dapat digunakan untuk
menyembuhkan penyakit yang diturunkan untuk menghasilkan berbagai macam
tanaman panen yang lebih. Pada organisme tingkat tinggi, seperti tanaman
dan hewan, gen yang dicangkok terlebih dahulu harus disambung ke dalam
alat mengangkut, yaitu vektor seperti virus dan plasmid. Suatu vektor
harus mampu memasuki suatu sel yang selanjutnya menjadi bagian dari
genom sel sehingga mentaati kontrol sel secara normal pada transkripsi
dan replikasi DNA. Tentu saja sangat penting bahwa setiap gen tambahan
di mana vektor bisa membawa masuk ke dalam sel harus tidak berbahaya
bagi sel. Pada masa sekarang, secara rutin gen-gen dicangkokan ke dalam
sel-sel di kultur laboratorium.
Manfaat
dari pencangkokan gen tidak dapat diragukan lagi dalam bidang
pertanian, terutama untuk memperoleh gen-gen tanaman yang dapat bertahan
dan melawan sebagian besar penyakit atau hama dan tumbuhan pembunuh
(rumput liar). Para peneliti tanaman pangan telah bekerja keras untuk
mentransplantasikan gen-gen pengikat nitrogen dan menghasilkan tumbuhan
polongan yang mampu mengikat nitrogen sendiri tanpa bersimbiosis dengan
bacteri pengikat nitrogen.
Dengan
demikian tumbuhan hasil rekayasa genetika tersebut dapat tumbuh baik
pada lahan yang miskin akan nitrogen. Bila kita mencangkokan gen-gen
yang relevan ke dalam tanaman pangan lain dan mengaturnya dengan bacteri
tersebut, maka kita tidak perlu menggunakan pupuk nitrogen. Dalam
tahun 1987, percobaan pertama terhadap tanaman yang mengandung gen-gen
pestisida dilakukan dengan menggunakan tanaman tembakau. Gen-gen
pestisida berasal dari bacteri Bacillus thuringiensis. Bacteri
ini menghasilkan suatu toksin yang membunuh larva hewan ngengat, tetapi
tidak berbahaya (beracun) terhadap insekta lain, mamalia atau
burung.
2. Transplantasi nukleus pada hewan









0 komentar:
Posting Komentar